Minggu, 13 Juli 2014

KESUCIAN

"Kesucian" seorang beriman bukan untuk diperlihatkan kepada orang agar mendapat pujian atau agar mendapat penghormatan dari manusia, karena "Kesucian" itu akan terlihat oleh orang lain sekalipun ia berusaha menyembunyikannya. Karena "Kesucian" itu bersifat hakiki dan tidak dapat dipisahkan dari orang yang memilikinya. Seperti halnya dengan rasa asin dari garam, atau terang dari pelita (lampu); sehingga orang yang mengecapnya tahu bahwa serbuk putih itu adalah garam tanpa harus diberitahu lagi, karena ia dapat merasakan rasa asin darinya. Dan seorang yang berada dalam ruangan tertutup dapat melihat keadaaan ruangan dan barang yang ada di dalamnya, karena terdapat cahaya dari pelita (lampu). Dalam hal ini ia juga tidak perlu diberitahu dari mana terang itu berasal. Keadaan ini sekali lagi oleh Tuhan Yesus Kristus diterangkan dengan menggunakan contoh: kota Yerusalem, yang didirikan di atas bukit, yang sudah terlihat orang dari jauh, walau ia masih harus berjalan menempuh jarak perjalanan yang cukup jauh untuk sampai gerbang kota dan memasukinya.

Dalam hal ini Tuhan Yesus mempunyai standar "Kesucian" hingga sempurna; yang mempunyai lima kriteria yang harus dipenuhi orang beriman (Mat.5:17-58), supaya ia menjadi garam dan terang dunia (Mat.5:13-16). Lima kriteria "Kesucian" yang dimaksud Tuhan Yesus Kristus adalah: Suci dalam hati; Suci dalam pikiran; Suci dalam perkataan; Suci dalam perbuatan; dan Suci dalam kasih, yang sebenarnya adalah satu entitas saja, seperti sebuah piringan bercat warna-warni yang dibagi menurut sudut dan jari-jarinya (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu) apabila diputar kencang pada porosnya maka yang memperlihatkan warna putih.
Yusuf menghiburkan hati saudara-saudaranya 50:15 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam p  kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya. q " 50:16 Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan: r  50:17 Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa s  mereka, sebab mereka telah berbuat jahat t  kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu. u " Lalu menangislah v  Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. 50:18 Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya w  serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu. x " 50:19 Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? y  50:20 Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, z  tetapi Allah telah mereka-rekakannya a  untuk kebaikan 2 , b  dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup c  suatu bangsa yang besar. 50:21 Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu d  juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan  hati mereka dengan perkataannya.
Yusuf memaafkan saudara-saudaranya


Mat.5:13-16 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Taurat Musa yang diajarkan kepada orang Yahudi adalah tradisi turun temurun dengan disiplin yang keras dan kaku, karenanya mereka tidak mengerti inti perintah Taurat Musa, yang menuntut "Kesucian" yang sempurna kepada bangsa Israel, sebagaimana diajarkan Yesus Kristus kepada bangsa Israel rohani (Mat.5:17-48).

Perumpamaan ttg sesama manusia
Mat.5:17-48 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

Suci dalam hati

Suci dalam hati adalah tidak membenci sesamanya mulai dari lubuk hatinya yang terdalam, seperti yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus : "Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Dalam pengajaran itu Tuhan Yesus Kristus memberikan tiga contoh hati yang membenci sesamanya yang mempunyai tingkatan. Tingkatan yang paling ringan adalah perasaan marah di dalam hati terhadap seseorang, walaupun ia tidak menyatakannya secara terbuka dengan kata-kata. Seorang beriman dikatakan mempunyai hati yang tidak suci apabila ia merasa tidak senang terhadap perkataan atau perbuatan orang lain yang dilakukannya dengan sengaja ataupun tidak sengaja. Maka orang ini layak untuk mendapat hukuman fisik.

Tingkat ke dua adalah perasaan benci yang dikeluarkan lewat kata-kata kasar yang merendahkan orang, seperti yang dilakukan orang Farisi yang menghardik orang yang tidak disukainya dengan kata: "kafir", karena ia menganggap dirinya lebih suci dari orang lain yang dianggapnya tidak beradab dan tidak bertuhan. Maka orang ini layak dihadapkan kepada pengadilan agama atau pengadilan negeri. Dan yang setimpal dengannya adalah hukuman fisik dan kurungan penjara.

Tingkat ke tiga adalah perasaan benci yang sudah merasuk kedalam tulang sumsumnya, sehingga ia tidak menganggap orang yang dibencinya adalah manusia seperti dirinya, yang menyamakan orang yang dibencinya adalah binatang dan tega memperlakukan perbuatan apa saja dan baginya adalah perbuatan halal. Maka orang ini wajib mendapat hukuman kekal dari Tuhan, yaitu dimasukkan ke dalam lautan api neraka. 

Suci dalam pikiran

Suci dalam pikiran adalah tidak mempunyai keinginan dan pikiran untuk mencemarkan tubuhnya sendiri sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus : "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya."

Dalam hal ini Tuhan Yesus menekankan bahwa yang disebut dengan berzinah, bukan hanya perbuatan fisik saja. Seorang beriman bisa dikatakan berzinah ketika ia memandang perempuan dengan berpikir untuk bersetubuh dengannya, sehingga pikirannya merangsang dan membangkitkan gairah seksualnya. Seorang beriman dapat dikatakan tidak suci dalam pikirannya apabila pikirannya senantiasa dipengaruhi oleh gairah seksual, sehingga semua yang dipikirkannya akan mengarah dan berujung pada hal-hal seksual saja. Sedangkan seorang beriman dikatakan memiliki pikiran yang suci apabila ia memandang perempuan dengan pikiran seperti seorang ayah yang melihat anaknya perempuan, atau seorang ibu yang melihat kepada anaknya laki-laki; atau seorang kakak/ abang yang melihat kepada adiknya; atau seorang adik kepada kakak/ abangnya. Jadi yang dimaksudkan Tuhan Yesus dengan suci dalam pikiran adalah suci dalam hal seksual.

Suci dalam perkataan

Suci dalam perkataan adalah tidak berkata sia-sia dengan perkataan yang berbelit-belit, melainkan mengatakan segala sesuatu dengan terus terang, jujur, dan sederhana sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus: "Janganlah sekali-kali bersumpah,....Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak."


Berkata "terus terang" berarti berkata dari dalam hatinya; apa yang keluar dari mulutnya adalah yang sebenarnya ada dalam hati. Berkata "jujur" berarti berkata apa adanya; apa yang dikatakannya tidak mempunyai maksud untuk menjebak atau menipu. Berkata "sederhana" berarti berkata langsung pada maksudnya; tidak menggunakan kata-kata bersayap dan tidak menggunakan alasan-alasan yang membingungkan. Bila ia merasa suka maka ia akan mengatakan bahwa ia memang suka; bila tidak, ia pun akan mengatakan tidak suka. Apabila "ya"  dikatakannya "ya", dan  "tidak" dikatakannya "tidak."


Suci dalam perbuatan

Suci dalam perbuatan adalah tidak melawan atau membalas bila orang yang melakukan hal yang jahat kepadanya, melainkan memaafkan kesalahannya itu; sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus: "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."

Dalam hal ini Yesus Kristus mengajarkan kepada murid-muridNya dan orang beriman agar tidak melakukan perbuatan berdasarkan perbuatan orang lain kepadanya. Tetapi berbuat menurut panggilan hatinya yang suci, bukan karena ingin membalas perbuatan orang lain. Dan mengajar orang beriman untuk mempunyai inisiatif  melakukan perbuatan baik kepada sesamanya. Terdapat enam hal yang harus dilakukan orang beriman berkaitan dengan Suci dalam perbuatan, yaitu:

1. Dalam hal memberi sedekah

Orang beriman harus dapat memberi pertolongan atau bantuan kepada orang lain dengan ikhlas, tanpa pamrih dan tidak mengingat-ingatnya atau mengingatkan perbuatan baik yang dilakukannya itu kepada orang yang pernah ditolongnya; atau memberitahukan perbuatan baiknya kepada orang supaya mendapat pujian dan hormat  (Mat.6:1-4).

Mat.6:1-4 "Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."


2. Dalam hal berdoa 

Orang beriman menjadikan "berdoa" sebagai kebutuhan hidup, adalah makanan rohani bagi jiwanya, yang merupakan hubungan pribadi dengan Allah yang disembahnya, bukan sebagai perbuatan untuk menaikan citra diri dimata orang lain supaya dianggap orang yang saleh. Dengan "berdoa" seorang beriman melakukan refleksi diri dan introspeksi tentang apa yang telah diperbuat dan dilakukan sepanjang hari itu, sehingga ia bisa mengoreksi diri dan meminta ampun kepada Tuhan atas kesalahan-kesalahan yang dilakukannya serta memohon hikmat, makrifat, dan kekuatan, sehingga mampu hidup menurut perintah Tuhan (Mat.5:6-15).

Mat.6:5-15 "Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah demikian : Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mujadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

3. Dalam hal berpuasa

Orang beriman berpuasa adalah untuk mengalahkan iblis dan setan, yang senantiasa mengintai dan siap menyerangnya dengan berbagai godaan dan cobaan. Semua itu dilakukannya untuk menyesatkan orang beriman dan membuatnya menjadi pengikutnya dan calon penghuni neraka. "Godaan" adalah cara iblis dan setan menyerang orang beriman, menggunakan segala hal duniawi untuk memuaskan nafsunya; sedangkan "Cobaan" adalah cara iblis dan setan menyerang orang beriman menggunakan penderitaan, kesesakan, kesulitan, kesukaran dll, baik secara materiil maupun immateriil. Oleh karena itu seorang beriman berpuasa bukan untuk ditunjukkan kepada manusia tetapi supaya Tuhan berkenan kepadanya (Mat.6:16-18).

Mat.6:16-18 "Dan apabila kamu berpuasajanganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. "

4. Dalam hal mengumpulkan harta

Orang beriman tidak hidup hanya memikirkan cara mengumpulkan harta duniawi, yang sifatnya sementara, tetapi menggunakannya untuk melakukan perbuatan kasih dengan menolong sesamanya untuk mengumpulkan harta di sorga  (Mat.6:19-24).

Mat.6:19-24 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi;di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. "

Dalam hal harta duniawi, Tuhan telah menentukan masing-masing orang menurut ketetapan dan kerelaanNya, oleh karena itu perbuatan manusia tidak bisa mengubah ketetapan Tuhan itu. Orang yang telah ditentukan menjadi kaya raya, walaupun ia hidup tidak di jalan Tuhan, hal itu tidak akan menggagalkan ketetapanNya. Dan sebaliknya seorang yang hidup menurut ajaran Tuhan juga tidak akan menjadikannya menjadi kaya-raya berkelimpahan harta duniawi bila ia sudah ditetapkan Tuhan menjadi orang biasa saja. Jadi perbuatan manusia tidak menentukannya menjadi kaya atau biasa-biasa saja, dapat menentukan pertumbuhan imannya.

5. Dalam hal kekuatiran

Orang beriman harus mampu menunjukkan kepercayaannya kepada Tuhan yang disembah dan dipujanya sebagai pencipta yang berkuasa atas seluruh hidupnya, yang mempunyai kuasa memberi hidup tetapi juga berkuasa mengambilnya juga; yang mempunyai kuasa memberikan semua yang ada di dunia tetapi berhak pula untuk mengambilnya kembali sesuai kehendakNya. Kepercayaan orang beriman kepada Tuhan Yesus dilakukan dengan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan dan menerima semua yang dibuatNya dalam hidupnya dengan penuh suka-cita, karena percaya bahwa Tuhan melakukan semua itu demi kebaikan dan kebahagiaannya (Mat.6:25-34).

Mat.6:25-34 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani  rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

6. Dalam hal menghakimi 

Orang beriman tidak berhak menilai kebaikan atau kejahatan orang lain, karena tidak ada manusia yang sempurna yang berhak menilai dan menghakimi manusia (selain Yesus Kristus) . Orang yang melakukan berarti mencuri hak Tuhan dan sekaligus juga menyamakan diri denganTuhan (Mat.7:1-5).  

Mat.7:1-5 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."

Yang dinilai baik oleh manusia belum tentu baik dalam penilaian Tuhan, karena manusia hanya mampu menilai yang terlihat oleh mata saja, tetapi Tuhan dapat menilai sampai ke dalam hati manusia. Tuhan tahu motivasi yang ada dalam perbuatan manusia, yang dilakukan dalam perkara yang baik maupun perkara yang tidak baik; yang dilakukan dalam perkara yang tersembunyi maupun yang terbuka.

Suci dalam kasih

Suci dalam kasih adalah kasih yang tidak membeda-bedakan dan tidak mengharap pembalasan, seperti kasih seorang ibu kepada anaknya atau kasih Allah kepada manusia; sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

Seorang beriman yang benar tentunya tidak mempunyai musuh, namun ia tidak bisa melarang orang yang memusuhinya. Dalam posisi demikian Yesus Kristus mengajar orang beriman supaya mampu mengasihi orang yang memusuhinya, yaitu : orang yang tidak suka padanya, orang yang iri padanya, dan orang yang berlaku tidak benar atau jahat. Dalam hal ini seorang beriman harus mempunyai sifat-sifat yang utama, yaitu : penyabar, murah hati, tidak pencemburu; tidak memegahkan diri dan tidak sombong; tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri; dan lain-lain sifat yang harus dipunyai seorang beriman seperti yang ditulis dalam surat rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Korintus (1Kor.13:4-7).

1Kor.13:4-7 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kamis, 10 Juli 2014

STUDI YUSUF

Empat belas pasal terakhir kitab Kejadian (pasal 37-50) bercerita tentang riwayat hidup Yusuf, yang menjadi suatu cerita pendidikan bagi orang beriman. Kisah Yusuf adalah cerita tentang pengalaman rohani untuk memahami cara TUHAN mendidik dan membentuk iman orang percaya (yang direpresentasikan oleh Yusuf) menjadi seorang berkepribadian yang indah, baik dalam pandangan Allah dan manusia. 

Kisah dimulai dari seorang remaja berusia tujuh belas tahun bernama Yusuf, yang menceritakan mimpinya kepada Yakub, bapanya dan saudara-saudaranya. Di dalam mimpi itu TUHAN berfirman kepada Yusuf, ini adalah pengalaman rohani pertamanya mendapat firman TUHAN. Yusuf bermimpi melihat sebelas berkas gandum milik saudara-saudaranya bersujud kepada berkas gandum milik Yusuf. Mimpi yang diceritakan Yusuf itu membuat saudara-saudaranya tidak senang, karena mereka telah mempunyai perasaan iri dan dengki terhadap Yusuf, yang lebih dikasihi Yakub. Mereka menyimpan perasaan itu di dalam hati,  tetapi ketika Yusuf juga menceritakan mimpinya yang ke dua, perasaan tidak senang saudara-saudaranya itu berkembang menjadi perasaan benci. Dalam mimpinya Yusuf melihat matahari, bulan, dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya. Saudara-saudaranya paham yang dimaksudkan dengan sebelas bintang itu, dan mereka tidak rela bila harus bersujud kepada Yusuf, adik bungsu mereka. Oleh karena itu mereka berencana melenyapkan Yusuf, agar mimpi itu tidak menjadi kenyataan. Mereka sepakat menunggu saat tepat untuk melenyapkan Yusuf; dan ketika kesempatan itu tiba mereka dirasuk roh jahat, yang membuat mereka berniat membunuhnya. Seorang dari mereka tidak tega membunuhnya, sehingga mengusulkan jalan tengah untuk  menjual Yusuf sebagai budak, .

TUHAN mempunyai rencana dibalik penderitaan Yusuf, hal ini disadari oleh Yusuf dikemudian hari setelah belasan tahun berlalu, ketika ia sudah menjadi penguasa di Mesir (Kej.19:19-21). TUHAN mengirim Potifar seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja membeli Yusuf sebagai budak. Tetapi beberapa tahun kemudian Yusuf dijadikan Potifar sebagai kepala pelayan di rumahnya dan memberi kuasa atas rumah dan segala miliknya, karena ia dapat menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan dengan sangat memuaskan. Untuk sementara Yusuf tenang di dalam rumah Potifar, namun dikemudian  hari TUHAN mengujinya kembali. 

Potifar mempunyai seorang istri yang terpikat oleh Yusuf yang tampan dan manis budi pekertinya, tetapi memfitnahnya melakukan perbuatan kurang ajar kepadanya, karena Yusuf tidak mau diajak selingkuh. Potifar yang terprovokasi istrinya itu marah dan memasukan Yusuf ke dalam penjara. Beberapa lama kemudian Yusuf mempunyai teman senasib dalam penjara, yaitu : dua orang pegawai istana raja, yang seorang juru minuman dan seorang lainnya juru roti  raja Mesir. Mereka masing-masing bermimpi dan mimpi mereka ditafsirkan Yusuf. Ternyata tafsir mimpi itu menjadi kenyataan, tepat seperti yang dikatakan Yusuf. Juru minuman telah berjanji kepada Yusuf akan berupaya melepaskannya dari dalam penjara setelah ia bebas, tetapi ia lupa janjinya itu. 

Sampai suatu malam Firaun mendapat mimpi dan tidak  ada seorangpun dari antara orang-orang berhikmat dalam kerajaannya yang dapat menafsirkan arti mimpi itu. Juru minuman raja kemudian teringat kepada Yusuf. Dan melaporkan kepada Firaun yang berkenan menyuruh pegawainya memanggil Yusuf ke istana, untuk mengartikan mimpinya. Raja sangat terkesan oleh hikmat yang dimiliki Yusuf, dan ia menunjuknya sebagai seorang pejabat yang berkuasa penuh di Mesir, yang kekuasaannya hanya di bawah Firaun saja.

Selama ini gereja kristen memahami riwayat hidup Yusuf sebagai gambaran Yesus Kristus sebagai Anak Allah  yang dikasihi Allah Bapa, yang merelakan diri dilahirkan ke dunia menjadi manusia dan mengambil rupa sebagai budak; melakukan pelayanan kepada manusia, dan mati disalib untuk menebus dosat manusia; tetapi kemudian Ia bangkit dari kubur, naik ke sorga, dan duduk di atas tahta Kerajaan Allah. Selain sebagai gambaran Yesus Kristus, riwayat hidup Yusuf merupakan pelajaran rohani dan hikmat bagi orang beriman yang hidup di jalan Tuhan, sebagai "Studi Yusuf." 

"Studi Yusuf" memberikan lima hal yang dikerjakan TUHAN dalam hidup Yusuf, sehingga imannya tumbuh menjadi dewasa. TUHAN adalah Allah yang kekal dan tidak berubah sepanjang masa, sehingga TUHAN membentuk iman orang percaya juga tidak berubah tetap menggunakan lima hal ini, yaitu: 1. Tuhan berfirman kepada orang yang beriman kepadaNya; 2. Tuhan meremukkan hatinya; 3. Tuhan menguji kesuciannya; 4. Tuhan menguji kesabarannya; 5. Tuhan menguji karaternya. 

1. Tuhan berfirman kepada orang beriman

Dalam hidup seorang beriman yang benar, ia akan mengalami banyak pengalaman rohani bersama Tuhan, dimana yang pertama adalah pengalaman berkomunikasi dengan Allah. Ia mengalami mendapat firman Tuhan yang sifatnya satu arah, yaitu dari Tuhan kepada orang beriman; sebagai jawaban atas doa-doanya yang ditujukan kepada Allah yang disembahnya, bisa melalui mimpi, bisa melalui penglihatan, bisa melalui pembukaan firman, bisa melalui mendengar suara Tuhan yang terdengar di telinganya, atau bisa juga melalui nubuat seorang hamba Tuhan.
Dalam hal ini Yusuf mendapat firman Tuhan melalui mimpi, pada mimpi yang pertama Yusuf belum mengerti arti mimpinya itu dengan jelas, masih samar-samar; sehingga ia menceritakannya kepada saudara-saudaranya dan juga bapanya. Tetapi dengan mendapat mimpi yang ke dua maka pesan firman Tuhan pada mimpi yang pertama menjadi terang dan dapat dimengerti dengan jelas.

Demikian pula yang dialami oleh orang-orang beriman pada masa Perjanjian Baru sampai sekarang, Tuhan berfirman masih menggunakan cara dan pola yang sama, karena TUHAN yang berfirman kepada Yusuf adalah Allah yang sama dengan Allah yang berfirman kepada orang beriman pada masa sekarang. Tetapi setelah kenaikan Yesus ke sorga pada kedatangan Nya yang pertama sampai kedatanganNya kembali  pada akhir jaman adalah "Masa Kasih Karunia" atau "Zaman Anugerah," Tuhan Yesus Kristus mengutus Roh Kudus ke dunia untuk membimbing dan menolong orang yang percaya dan tinggal-diam dalam dirinya. Maka orang beriman pada zaman ini lebih mudah berkomunikasi denganNya. Disamping itu Ia juga memberikan karunia-karunia Roh Kudus dengan berlimpah kepada setiap orang percaya yang mau bersungguh-sunguh hidup menurut jalan Nya (Mrk.16:15-18), untuk membangun jemaat Tuhan. 

Mrk.16:15-18. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda  ini akan menyertai  orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru  bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh."

Allah memberikan karunia-karunia Roh Kudus sebagai tanda yang menyertai orang percaya, salah satunya adalah karunia berbahasa roh, yaitu karunia berbicara dalam bahasa-bahasa baru yang merupakan karunia untuk berkomunikasi dengan Nya, karena bahasa-roh hanya dapat dimengerti oleh Allah dan roh orang itu sendiri, tetapi tidak dimengerti oleh manusia dan setan.

2. Tuhan meremukkan hatinya.

Pengalaman Yusuf dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya itu adalah pengalaman yang sangat menyakitkan, dan meremukkan hatinya. Hal ini dapat dimengerti karena ia dari sejak masih kanak-kanak bergaul akrab dengan sebelas saudara-saudaranya itu; mereka adalah orang-orang yang dianggapnya paling dekat dengannya, paling disayanginya dan juga menyayanginya, sehingga ia sangat percaya kepada saudara-saudaranya itu. Oleh karena itu segala sesuatu yang ada dalam hati dan yang dialami diceritakannya kepada mereka tanpa ada yang dirahasiakannya, termasuk pengalamannya mendapat firman TUHAN. Tetapi ketika pada kenyataannya ia diperlakukan dengan jahat, perbuatan yang mungkin akan sulit dilakukan orang lain kepadanya, telah membuat hatinya hancur, kecewa, dan remuk-redam. 

Perasaan sakit hati yang sangat mendalam yang dirasakan Yusuf adalah perasaan sakit luar biasa di dalam dadanya; Ia merasa bagaikan ulu hatinya ditusuk-tusuk dengan jarum sampai meneteskan darah yang rasa nyeri hatinya itu tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, dan rasa sakit itu menyebabkannya sulit bernafas. karena bila ia berusaha menarik nafas yang dirasakannya adalah rasa nyeri dan sakit di dalam dadanya. Perasaan sakit demikian yang harus ditanggung oleh Yusuf pada masa mudanya, ketika ia masih seorang remaja berusia tujuh belas tahun. Pengalamannya itu bagi orang lain mungkin akan membekas sangat dalam dan melukai jiwanya dan cukup untuk membuatnya tidak waras; atau paling ringan akan menjadikannya seorang pendendam yang berdarah dingin, sadis dan jahat. Tetapi pada kenyataannya hal itu tidak terjadi pada diri Yusuf, bahkan membuat dirinya menjadi seorang yang mempunyai iman yang kuat dan mempunyai kesabaran untuk lebih memahami kelemahan dan kekurangan orang lain. Dan semuanya itu menjadikannya mudah memaafkan saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat kepadanya. 

Hal ke dua yang dikerjakan Tuhan itu menjadikannya menjadi seorang yang berkepribadian menyenangkan sehingga ia dikasihi orang-orang yang mengenalnya, diantaranya adalah Potifar, kepala penjara; juru minum dan juru roti raja;  Firaun, raja Mesir, dan juga rakyat Mesir. (Kej.39:4, 21)

Kej.39 :4 maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf.

Kej.39:21 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.

3. Tuhan menguji kesuciannya. 

Yusuf digoda istri Potifar
Hal ke tiga yang dikerjakan TUHAN adalah menguji kesucian Yusuf. Sebagai seorang anak muda adalah bukan perkara yang mudah untuk mengendalikan diri dari dorongan seksualnya ketika seorang wanita jelita berusaha menggodanya. Maka godaan yang datang dari seorang wanita dewasa seperti istri kepala pengawal raja, seorang wanita pilihan yang mempunyai tubuh proporsional dan wajah ayu, akan mudah menggoda laki-laki muda untuk berzinah dengannya. Dari isi cerita dapat disimpulkan bahwa istri Potifar bukanlah seorang wanita baik-baik; ia adalah seorang wanita yang pintar berpura-pura, suka menggoda lawan jenisnya, dan sering berselingkuh dengan laki-laki lain dibelakang suaminya. Oleh karena itu Ia berusaha menyembunyikan rahasia perselingkuhannya dari Potifar, suaminya, yang sampai saat itu masih menganggapnya seorang istri baik-baik dan terhormat. 

Yusuf menolak istri Potifar yang mengajaknya berselingkuh, hal ini membuat wanita itu merasa tersinggung dan direndahkan harga dirinya, sehingga rasa tertarik dan kasihnya kepada Yusuf berubah menjadi benci. Tetapi bersamaan dengan itu juga timbul perasaan kuatir bila rahasia perselingkuhannya dengan banyak laki-laki terbongkar; sehingga ia berpikir Yusuf dapat membongkar rahasia perselingkuhannya, maka untuk menyelamatkan diri ia memfitnah Yusuf  yang berbuat kurang-ajar kepadanya.

Dalam hal "Kesucian" Tuhan mempunyai standar yang sempurna, yang berlaku bagi orang beriman tidak terkecuali juga bagi Yusuf. "Kesucian" yang dimaksud itu mempunyai lima kriteria, yaitu : Suci dalam hati; Suci dalam pikiran; Suci dalam perkataan; Suci dalam perbuatan; dan Suci dalam kasih; sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus kepada murid-muridNya (Mat.5:17-48).

Mat.5:17-48 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."


Suci dalam hati adalah tidak mempunyai hati ntuk membenci sesamanya, apapun alasannya sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus : "Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala."

Suci dalam pikiran adalah tidak mempunyai keinginan dan pikiran untuk mencemarkan tubuhnya sendiri sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus : "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya."

Suci dalam perkataan adalah tidak berkata sia-sia dengan perkataan yang berbelit-belit, melainkan mengatakan segala sesuatu dengan sederhana dan jujur sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus: "Janganlah sekali-kali bersumpah,....Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak."

Suci dalam perbuatan adalah tidak melawan atau membalas bila orang yang melakukan hal yang jahat kepadanya, melainkan memaafkan kesalahannya; sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus: "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu."

Suci dalam kasih adalah kasih seperti yang dilakukan oleh seorang ibu kepada anaknya atau kasih Allah kepada manusia yang mengasihi tanpa membeda-bedakan, sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus: "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

Lima kriteria ini menjadi dasar bagi orang beriman, baik  dalam hidup pribadinya dengan Tuhan, maupun dalam hidupnya berhubungan dengan orang lain. Tuhan menghendaki "Kesucian" orang beriman berakar dari dasar hatinya yang terdalam; bukan hanya kesucian untuk diperlihatkan kepada orang lain, tetapi "Kesucian" yang sesungguhnya, bukan kesucian yang penuh kemunafikan; "Kesucian" yang tidak hanya benar menurut penilaian manusia, tetapi juga benar menurut penilaian Allah.


Dalam hal ini Yusuf telah lulus dan keberadaannya di dalam penjara dalam waktu relatif lama menjadi tempat berlatih yang baik baginya. Dan keberadaannya di dalam penjara membentuknya menjadi seorang yang sabar dan matang; yang dewasa dalam berpikir; bijaksana dalam berkata-kata; dan berhikmat dalam bertindak. Dewasa dalam berpikir berarti mempunyai kemampuan dalam memikirkan segala sesuatu, dengan mempertimbangkan segala aspek; baik yang bersangkutan dengan dirinya sendiri maupun yang menyangkut orang lain; Bijaksana dalam berkata-kata berarti memikirkan terlebih dahulu akibat yang bisa ditimbulkan dari perkataan yang dinyatakannya, akibat yang negatif atau akibat yang positif; Berhikmat dalam bertindak berarti dapat memutuskan tindakan yang tepat, yang telah dipikirkan secara dewasa dan mengutarakannya dengan bijaksana, sehingga menghasilkan tindakan yang lebih banyak memberi maslahat bagi banyak orang dari pada yang mudarat. Akhirnya setelah melewati waktu kurang lebih tiga tahun di dalam penjara, TUHAN membukakan jalan dan mempertemukan Yusuf dengan raja Mesir, Firaun.

4. Tuhan menguji kesabarannya. 

Inilah hal yang paling berat karena TUHAN menguji kesabarannya dengan "Waktu" yang tidak ditentukan, tetapi yang lamanya tergantung pada kemampuan Yusuf sendiri. Semakin cepat ia ia dapat mengatasi ujian-ujian itu, semakin cepat TUHAN membebaskannya dari masa pelatihan, dan selama itu ia harus menjalani hidupnya dengan menanggung berbagai penderitaan yang datang susul-menyusul bagaikan gelombang laut ; dalam hal ini Yusuf harus mengalami berbagai pengalaman yang menyakitkan hatinya, mulai dari dijual saudara-saudaranya; difitnah berbuat kejahatan yang tidak dilakukannya; dan harus menghuni dalam penjara selama bertahun-tahun tanpa kepastian. Dan walaupun ia tidak tahu berapa lama harus menjalaninya, ia tetap beriman kepada Tuhan bahwa Ia suatu "Waktu" akan menolong dan membebaskannya . 
Yusuf sebagai pejabat Mesir

Pada mulanya Yusuf tentu  merasa sangat kecewa dan mencoba untuk berusaha mencari cara agar dapat dibebaskan dari penjara, dengan meminta tolong kepada semua orang yang kemungkinan dapat mengeluarkannya dari dalam penjara, dan diantara mereka yang dimintainya pertolongan itu adalah seorang juru minuman raja. Tetapi setelah lama ditunggu juru minuman yang telah bebas dari penjara juga telah melupakannya. Dan karena "waktu" pula akhirnya Yusuf mengerti yang harus dilakukannya pada posisi saat itu, bahwa ia harus berserah kepada TUHAN, menerima semua pelatihan itu dengan rela dan ikhlas. Menerima dengan rela berarti menerima semua pelatihan itu tanpa berusaha menghindar, menolak, atau melawan keadaan yang menyesakkan hatinya itu;  Dan menerima dengan ikhlas berarti menerima pelatihan itu dengan hati yang gembira dan suka cita, bukan terpaksa karena tidak berdaya lagi. Karena ia tidak mengandalkan kekuatan dan akalnya sendiri, melainkan hanya mengandalkan pada pertolongan TUHAN saja. Pada saat Yusuf sampai pada titik ini maka hati dan perasaannya menjadi tenang, dan ketika itu pula TUHAN  menganggapnya telah lulus dari ujian, dan berkenan membebaskannya dari dalam penjara.

"Waktu" adalah alat paling ampuh yang digunakan Tuhan untuk membentuk karakter manusia; karena dengan berjalannya waktu; pendapat, cita-cita dan keyakinan seseorang dapat berubah atau berbalik dari keyakinannya semula. Allah menghendaki seorang beriman mempunyai karakter yang kuat dan kokoh, seperti batu karang ditengah laut yang tetap teguh walau diterjang ombak dan gelombang sepanjang tahun. Tuhan membutuhkan orang-orang yang mempunyai karakter demikian untuk membangun jemaatNya (Mat.16:13-20). Karena orang beriman yang mempunyai karakter demikian yang dapat menjadi garam dan terang dunia (Mat.5:13-16).

Mat.16:13-20. Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka:"Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku  dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.


Mat.5:13-16 "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."


5. Tuhan menguji karaternya.


Hal  terakhir yang dilakukan TUHAN terhadap Yusuf adalah menguji karakter sejati Yusuf dengan memberinya kekuasaan dan kehormatan besar, layaknya seorang raja. Dalam tahap ini Yusuf tidak jatuh dalam pencobaan, karena ia telah teruji pada empat hal sebelumnya. Dengan hal yang terakhir ini TUHAN memurnikan karakter Yusuf. Dalam pelayanan Yusuf kepada masyarakat, ia bertindak sebagai seorang pejabat Mesir yang baik, yang mau bekerja keras, bertindak jujur, adil, dan bijaksana. Ia melayani semua orang dengan kasih dan mengusahakan agar mereka semua mendapat hidup penuh sukacita, damai sejahtera, dan
Yusuf memaafkan saudara-saudaranya
aman-sentausa dalam kerajaan Firaun, tuannya.


Seorang yang sudah dibentuk TUHAN melalui empat hal di atas (sama seperti Yusuf) niscaya tidak akan pernah lagi mempunyai pikiran memperkaya diri, atau berusaha mendapatkan kehormatan bagi dirinya sendiri. Ia hanya berpikir untuk melakukan kehendak Allah dan memuliakan nama TUHAN, karena dalam hidupnya hanya memikirkan hal-hal yang menyenangkan hati Nya saja. Ia melakukan perbuatan baik tidak menganggap sebagai prestasinya sendiri, hasil kerjanya sendiri, atau perbuatan baiknya sendiri; melainkan menempatkan dirinya sebagai seorang hamba yang melakukan perintah  tuannya. Ia tidak merasa berjasa dengan semua perbuatan baik yang dilakukannya itu, karena ia melakukannya sebagai kewajiban atau keharusan; Ia melakukannya dengan wajar, sebagai perbuatan yang sudah seharusnya dilakukan oleh orang beriman. Dalam hal ini Yusuf melakukan sesuai dengan yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus dalam Injil (Luk.17:7-10). 


Luk.17:7-10 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."


Dalam hal TUHAN menguji karakter sejati seorang hamba Tuhan adalah bukan hanya sementara waktu atau dalam waktu tertentu saja, melainkan mengujinya seumur hidupnya; sampai batas akhir hidupnya, sampai ia menghembuskan nafasnya yang terakhir, ketika ia harus datang memenuhi panggilan Tuhan. Jadi ia diuji sepanjang hidupnya, sejak ia diberi jabatan paling terhormat itu sampai ia mati; tetapi  ia tidak jatuh dalam dosa (
Kej.50:19-21). 

Kej.50:19-21. Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikandengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya.

Rabu, 18 Juni 2014

Kanon Perjanjian Lama dalam Iman Kristiani

Kanon Perjanjian Lama sering dipertanyakan oleh beberapa orang kristen, karena mengacu pada pendapat beberapa tokoh gereja yang menunjuk pada kitab tertentu dalam Kanon Perjanjian Baru sebagai bagian terpenting dalam iman kristiani, dimana ada sementara orang Kristen yang menganggap Kitab Roma sebagai bagian yang lebih penting dibanding kitab-kitab lain dalam kanon, baik dalam kanon Perjanjian Baru maupun kanon Perjanjian Lama, karena menganggap bahwa surat rasul Paulus kepada jemaat Roma itu sudah mencakup keseluruhan pengajaran tentang iman kristiani, sehingga berpendapat bahwa seorang kristiani sudah cukup hanya berdasarkan padanya saja. Dan yang lain ada yang menganggap bahwa Injil Yohanes yang terpenting; tetapi ada juga yang menganggap Kitab Ibrani sebagai yang paling penting. Bahkan ada yang menganggap kanon perjanjian Lama tidak penting lagi, karena sudah digenapi oleh Yesus Kristus sehingga berpendapat  bahwa kanon Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi, yang penting hanya kanon Perjanjian Baru saja.

Yusuf dihadapkan Firaun
Dengan adanya silang pendapat seperti di atas itu maka terjadi kerancuan pemahaman tentang pentingnya kanon perjanjian Lama diantara jemaat Kristen sendiri. Hal yang demikian sering ditemukan pada tulisan-tulisan dan forum kristen di media-sosial, jadi bagaimana posisi kanon Perjanjian Lama yang benar dalam iman kristisni yang seharusnya dimengerti oleh orang kristen, agar dapat memberikan manfaat bagi pertumbuhan iman kristiani, baik bagi setiap pribadi kristiani secara khusus, maupun bagi jemaat Kristen pada umumnya.

Apabila seorang Kristen secara sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus Kristus, maka sebenar-benarnya ia akan mengetahui bagaimana seharusnya memposisikan kanon Perjanjian Lama dalam kaitannya dengan iman kristiani. Hal ini dimungkinkan karena ia mendapat bimbingan Roh Kudus, yang memberinya hikmat dan memimpinnya untuk mengerti dengan benar bagaimana seharusnya menempatkan kanon Perjanjian Lama. Ia akan disertaiNya , dibimbingNya, dihiburNya, ditegurNya, dan dikuatkanNya di dalam menjalani hidupnya selama mengikut Tuhan, sehingga ia dimampukan melakukan segala sesuatu sesuai dengan yang firmanNya (Yoh.14:25-26). 

Yoh.14:15-31 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu . Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamupun akan hidup. Pada waktu itulah  kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah  dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. Dan sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang dan ia tidak berkuasa sedikitpun atas diri-Ku.Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku, bangunlah, marilah kita pergi dari sini."

Seorang Kristiani tidak akan dapat mengerti dengan benar bagaimana menempatkan posisi kanon Perjanjian Lama apabila ia memahaminya dengan mengandalkan akalnya sendiri, kepintarannya sendiri, atau pendapatnya sendiri. Tetapi ia akan dengan mudah mengerti dan memahaminya, apabila ia menggunakan iman dan mau berusaha melakukan kehendak Tuhan Yesus Kristus dengan sungguh-sungguh; dengan sepenuh hati, dengan segenap kekuatannya, dan dengan segala kemampuannya.

Dengan sepenuh hati berarti ia mau melakukannya tidak dengan ragu-ragu, tidak dengan terpaksa, dan tidak dengan pamrih mendapatkan imbalan yang diinginkannya. Dengan segenap kekuatannya berarti ia berusaha dengan maksimal sampai batas terakhir yang bisa dilakukannya. Sedangkan dengan segala kemampuannya berarti ia menggunakan segala yang ada pada dirinya untuk dapat melakukan kehendak Tuhan Yesus Kristus, dengan segala yang dimilikinya, yang ada pada dirinya baik materiil (misalnya barang, uang, atau kepemilikannya terhadap segala sesuatu) maupun yang immateriil (misalnya keahliannya, kepandaiannya, waktunya, dan seluruh hidupnya). Yang demikian ini sebenarnya bukan hal baru, karena semua itu telah dilakukan dan dialami oleh orang-orang beriman yang diceritakan dalam kanon Perjanjian Lama, hal ini juga telah dikatakan oleh Yesus Kristus pada khotbah Nya di atas bukit kepada murid-murid dalam Injil Matius.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku  kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. "(Mat.5:11-12)

Sebagai contoh untuk menerangkan hal yang berkaitan dengan itu adalah cerita tentang Yusuf dalam kitab Kejadian (sebagai pelajaran, refleksi diri dan hikmah serta perenungan atau introspeksi diri bagi orang beriman pada masa sekarang), dimana Yusuf sebagai seorang anak-muda yang masih remaja ternyata telah mampu memilih yang terbaik, dengan merespon firman TUHAN itu dan hidup menurut kehendakNya. Tindakan Yusuf ini sesuai dengan perkataan Yesus kristus: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. " (Mat.6:19-24)

Kesimpulan demikian diambil berdasarkan pengalaman Yusuf, seperti yang tertulis dalam kitab Kejadian, yang menceritakan pengalaman rohaninya kepada saudara-saudaranya dan kepada Yakub bapanya; ketika pertama kalinya TUHAN berfirman kepadanya melalui mimpi tentang berkas gandum saudara-saudaranya yang sujud pada berkas gandumnya; dan yang ke dua mimpi tentang matahari, bulan dan sebelas bintang yang bersujud kepadanya; oleh karena itu ia kemudian dibenci oleh saudara-saudaranya yang kemudian bertindak lebih lanjut dengan melakukan tipu daya dan menjualnya sebagai budak; tetapi kemudian TUHAN mengirim Potifar seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja yang membelinya dan kemudian menjadikannya kepala dalam rumah tangganya dan memberinya kuasa atas rumah dan segala miliknya; tetapi kemudian difitnah oleh istri Potifar yang terpikat oleh ketampanannya dan berakhir di penjara, karena tidak mau menuruti kehendak wanita itu untuk berzinah dengannya; di dalam penjara ia menafsirkan arti mimpi dua orang pegawai istana raja, yaitu: juru minuman dan juru roti  raja Mesir, yang dipenjara karena melakukan kesalahan; oleh karena kemampuannya itu pada suatu saat ia dipanggil ke istana untuk menafsirkan arti mimpi Firaun, yang kemudian berakhir dengan penunjukkan oleh Firaun yang menjadikan dirinya sebagai seorang penjabat yang berkuasa penuh di Mesir, yang kekuasaannya hanya di bawah Firaun saja. (Kej.37-50)

Bila merenungkan cerita tentang Yusuf itu, dari mulai remaja sampai usia tiga puluh tahun ketika ia diangkat menjadi penguasa di Mesir , ia harus mengalami banyak kesulitan dan penderitaan yang tidak sedikit dan tidak ringan dalam waktu yang lama (tidak kurang dari dua belas tahun lamanya). Tetapi dalam menjalani kesulitan dan penderitaannya itu, ia tidak pernah melupakan TUHANnya dan menjalaninya dengan tabah, oleh karena itu ia mengalami pertumbuhan iman yang baik dan menghasilkan buah iman, yaitu karakter yang diinginkan Allah, yang tercermin dari perkataannya ketika ia menghibur saudara-saudaranya, setelah Yakub meninggal dunia (Kej.50:15-21).

Kej.50:15-21 Ketika saudara-saudara Yusuf melihat, bahwa ayah mereka telah mati, berkatalah mereka: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam  kita dan membalaskan sepenuhnya kepada kita segala kejahatan yang telah kita lakukan kepadanya. " Sebab itu mereka menyuruh menyampaikan pesan ini kepada Yusuf: "Sebelum ayahmu mati, ia telah berpesan:  Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa  mereka, sebab mereka telah berbuat jahat  kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu. " Lalu menangislah  Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya  serta berkata: "Kami datang untuk menjadi budakmu. "  Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan  hati mereka dengan perkataannya.

Perkataan Yusuf itu menunjukkan imannya yang telah mencapai dewasa, dan dapat disimpulkan menjadi tiga karakter yang dikehendaki Allah, yaitu:

1. Rendah hati 

Yusuf dikatakan sebagai seorang yang rendah hati tercermin dari pernyataannya kepada saudara-saudaranya, katanya: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?". Karena dengan kalimat itu ia yang biarpun sudah mencapai puncak kesuksesannya, sebagai seorang yang mempunyai kuasa sangat besar di Mesir, ia tidak menjadi lupa diri, tidak menjadi sombong, dan tidak menjadi gila hormat; melainkan tetap mengingat bahwa ia sebenarnya hanya seorang hamba saja, yang harus meninggikan Allah saja. Hal ini sesuai dengan yang diajarkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan "Tuan dan hamba" dalam Injil Lukas.(Luk. 17:7-10)

Luk. 17:7-10 "Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku  sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan. "

2. Mau memaafkan orang yang bersalah dan berbuat jahat kepadanya.

Perkataan Yusuf  selanjutnya: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku,  tetapi Allah telah mereka-rekakannya  untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup  suatu bangsa yang besar." mencerminkan kesadarannya sebagai hamba TUHAN yang digunakan sebagai alat Nya untuk memelihara suatu bangsa yang diinginkan TUHAN, yaitu Israel. Karenanya ia bisa menerima semua kesulitan dan penderitaan yang dialaminya bertahun-tahun dengan rela dan tidak mendendam kepada orang yang telah berbuat jahat kepadanya. Hal ini sesuai dengan yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus kepada murid-muridnya tentang Hukum Taurat dalam Injil  (Mat.5: 17-48).

Mat.5: 17-48 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas. Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam nerakaDan jika tanganmu yang kanan menyesatkan   engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka. Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai  kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah , ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;  janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.  Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.  Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?  Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. 

3. Membalas kejahatan dengan kebaikan. 

Kalimat terakhir yang dikatakan Yusuf : "Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu  juga." ini mencerminkan kemurnian, ketulusan, kesucian dan kebesaran hatinya serta cara pandang yang benar tentang hidup. Tindakan yang demikian hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah mengalami pendewasaan iman, yang merupakan hasil pendidikan yang dilakukan TUHAN kepadanya dengan melalui banyak kesulitan dan banyak penderitaan yang berlangsung lama; sebagaimana yang dikatakan Tuhan Yesus Kristus kepada jemaat di Laodikia dalam wahyu kepada rasul Yohanes di pulau Patmos (Why.3:14-22). 

Why.3:14-22 "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang, maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat ." 

Dari semua uraian diatas maka cerita-cerita dalam kanon Perjanjian Lama menjadi satu cerita pendidikan yang berguna bagi orang kristen sebagai pelajaran, teladan, dan hikmat di dalam hidupnya sehingga ia tidak sampai jatuh terkapar dalam dosa, baik pada saat ia sedang mengalami kesulitan dan menderita, maupun pada saat ia dalam keadaan yang senang dan bahagia. Karena pada kedua keadaan itu manusia dapat saja jatuh ke dalam dosa, apabila tidak berpegang kuat pada imannya.
Oleh karena itu kanon Perjanjian Lama mempunyai posisi yang sama penting dengan kanon Perjanjian Baru, dan semua kitab dalam kanon Alkitab merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan dan menjadi buku panduan hidup rohani bagi orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, dalam usahanya mengikuti jalan Tuhan yang sesak dan sempit itu (Mat.7:12-14). Hal ini sesuai dengan ajakan Tuhan Yesus kepada semua orang untuk datang dan belajar kepadaNya, supaya mendapat kebahagiaan bersama Nya dalam Kerajaan Sorga. (Mat.11:25-29)

Mat.7:12-14. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Mat.11:25-29. Pada waktu itu berkatalah Yesus: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku  dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan. "