Google+ Badge

IBADAH SEJATI

on Rabu, 23 Mei 2018

Ibadah berarti perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (KBBI) sedangkan beribadah berarti menjalankan ibadah; menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan Allah. Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru juga sepakat dengan definisi 'ibadah' menurut KBBI. Tetapi terdapat satu ayat dalam surat yang ditulis rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang memberi makna lain dari pada makna menurut definisi di atas: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,  supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati."(Rm 12:1).

Dalam ayat tersebut rasul Paulus memberi penekanan yang lebih dalam, bahwa ibadah yang sejati adalah suatu persembahan yang meliputi seluruh hidup manusia yang beriman kepada Tuhan, untuk memberikan yang terbaik dari dirinya kepada Tuhan; bukan hanya sekedar melakukan kewajiban dan perintah Nya, yang kemudian diterjemahkan dalam bentuk kewajiban dan upacara seremonial saja. Dalam hal ini rasul Paulus memberi penafsiran yang diilhami oleh korban-korban persembahan  dalam kemah suci atau dalam bait suci yang terdapat dalam kitab Taurat. Sama halnya dengan persembahan korban bakaran dan korban penebus dosa yang digenapi Yesus Kristus di kayu salib (Ibr 10:1-18), rasul Paulus kemudian mengenakan korban bakaran itu kepada orang percaya supaya menggenapinya, dengan mempersembahkan tubuhnya sendiri sebagai: 1. Persembahan yang hidup; 2. Persembahan yang kudus; dan 3. Persembahan yang berkenan kepada Allah.

Ibr 10:1-18 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata:  "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki--tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku --. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.Di atas Ia berkata:  "korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" --meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat--. Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan . Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita, sebab setelah Ia berfirman: "Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu," Ia berfirman pula: "Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka, dan Aku tidak lagi mengingat o  dosa-dosa dan kesalahan mereka." Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

1. Persembahan yang hidup.
Yang dimaksud dengan "Persembahan yang hidup" oleh rasul Paulus adalah korban yang dipersembahkan orang percaya yang meliputi segenap tubuh, jiwa, dan rohnya, dengan mengalami proses pemurnian oleh api godaan dan pencobaan selama hidupnya hingga waktunya dipanggil Tuhan.

2. Persembahan yang kudus.
Korban yang dipersembahkan orang percaya berkenaan dengan kekudusan, baik kudus secara jasmani maupun rohani. Kudus secara jasmani yang dimaksud rasul Paulus adalah menyerahkan hidupnya seutuhnya bagi Tuhan; dengan hidup menguduskan diri, dalam arti tidak kawin atau hidup selibat, seperti yang dilakukan rasul Paulus sendiri. Hidup selibat adalah mengkuduskan diri dengan menyalibkan keinginan-keinginan dagingnya dan menggantinya dengan kehendak Allah, yaitu segala yang kudus.

3. Persembahan yang berkenan kepada Allah.
Yang berkenan kepada Allah adalah  orang yang takut akan Tuhan, yaitu orang yang hidup dengan jujur dalam seluruh aspek  hidupnya (Ams.14:2), mulai dari yang dapat dilihat oleh mata dan yang dapat didengar oleh telinga, sampai dengan yang timbul dalam hati yang hanya diketahui Allah dan orang itu sendiri. 

Ams.14:2 Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia