Selasa, 02 Januari 2018

Manusia dan Mamon (bagian 2)

2. Setia.

Kata kunci yang ke dua adalah "setia" (yun: pistos) yang dilawankan dengan kata "tidak benar" (yun: adikos) yang terdapat dalam kalimat; "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar" (Luk.16:10-13).

Luk.16:10-13."Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." 

Kata "setia"  (yun: pistos) mempunyai makna 'bisa dipercaya,' sehingga perkataan Tuhan diatas dapat diterjemahkan sebagai: "Barangsiapa 'bisa dipercaya' dalam perkara-perkara kecil, ia bisa dipercaya juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."  



Arti kata 'setia' dalam bahasa Yunani di atas berbeda dengan makna dalam bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti 1 berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat: bagaimanapun berat tugas yang harus dijalankannya, ia tetap -- melaksanakannya; ia tetap -- memenuhi janjinya2 tetap dan teguh hati (dalam persahabatan dan sebagainya): telah sekian lama suaminya merantau, ia tetap -- menunggu; 3 berpegang teguh (dalam pendirian, janji, dan sebagainya): walau hujan turun dengan lebatnya, ia tetap -- memenuhi janji pergi ke rumah kawannya; (KBBI). 


Sedangkan persamaan kata (sinonim) 'setia' dalam bahasa Indonesia adalah

1.disiplinloyalmenurutpatihpatuh 
2. taatteguhtunakwafaabsolut .
3. andalbaktiberbaktibenarelok
4. lurussabarsadiktabahtawad

Dan lawan kata (antonim) dari 'setia' adalah mungkirmenyeleweng, tetapi Tuhan menggunakan kata "tidak benar" (yun: adikos) yang berarti: tidak adil, tidak jujur, tidak percaya. Maka kalimat di atas sekarang  dapat diterjemahkan menjadi:"Barangsiapa setia (pistos = bisa dipercaya) dalam perkara-perkara kecil, ia setia (pistos = bisa dipercaya) juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar (tidak adil, tidak jujur, tidak dapat percaya) dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar (tidak adil, tidak jujur, tidak dapat percaya) juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur (adikos), siapakah yang akan mempercayakan (pistos) kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia (pistos) dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." 

Dalam perikop ini Tuhan Yesus Kristus mengajarkan supaya orang beriman berlaku setia (pistos) atau dapat dipercaya dalam hal harta kekayaan duniawi (uang) atau mamon. Karena harta kekayaan duniawi adalah perkara kecil dimata Tuhan, sedangkan perkara besar yang sesungguhnya adalah harta yang di sorga sesuai yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus dalam Injil Matius 
(Mat.6:19-24).


Mat.6:19-24 
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu. Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon. " 

Jadi menjadi jelas sekarang bahwa dalam Injil Matius yang dimaksudkan "setia dalam perkara-perkara kecil" adalah cara pandang orang beriman berkenaan dengan harta kekayaan duniawi (uang) atau mamon. Orang beriman yang hatinya tidak  melekat pada harta kekayaan duniawi (uang), adalah hamba Allah, bukan hamba Mamon. Dan dinilaiNya sebagai orang yang mempunyai mata yang baik (yun: haplous = sehat, murni, baik; murah hati), sedangkan orang yang hatinya melekat pada uang atau harta duniawi dinilaiNya mempunyai mata yang jahat (yun: poneros = jahat, buruk, penuh dosa).

Dengan pemahaman ini maka menjadi jelas bahwa yang dimaksudkan dengan "setia dalam perkara kecil" adalah sikap hati orang beriman berkenaan dengan harta kekayaan duniawi (uang) atau mamon. Tuhan Yesus Kristus mengajarkan supaya setiap orang beriman mempunyai mata yang baik, yang artinya ia mempunyai hati yang sehat, murni, baik dan murah hati berkaitan dengan uang atau mamon. Dan ia tidak menempatkan uang atau mamon sebagai harta paling berharga, melainkan menjadikannya sebagai alat untuk memperoleh harta di sorga, yaitu dengan berbuat baik (kasih) kepada sesamanya (Mat.22:39; Luk.10:25-37). 

Mat.22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu,ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.


Luk.10:25-37 Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"


Tidak ada komentar: