Google+ Badge

RENUNGAN (06): Tentang Persembahan Persepuluhan

on Sabtu, 12 Mei 2012


'Persembahan Persepuluhan' atau 'Perpuluhan' adalah salah satu topik yang paling peka dalam pengajaran gereja. Disatu sisi 'Persembahan Persepuluhan' harus diajarkan agar iman jemaat bertumbuh, tetapi di sisi lain pengajaran tentang 'Persembahan Persepuluhan' juga menimbulkan apatisme jemaat terhadap gembala-sidang/ pendeta, terutama terjadi pada jemaat Gereja Pentakosta. Hal itu terjadi kemungkinan karena banyak kasus manipulasi pengajaran 'Persembahan Persepuluhan' yang dilakukan oknum pendeta yang berusaha mendapatkan kekayaan duniawi bagi dirinya sendiri dengan dalih bahwa 'Persembahan Persepuluhan' itu diperuntukan bagi pekerjaan Tuhan.
Pengajaran tentang 'Persembahan Persepuluhan' akan dapat  menumbuhkan iman jemaat, karena dengan melakukan 'Persembahan Persepuluhan' jemaat dilatih untuk mengasihi Tuhan, sebagai pengamalan Hukum Taurat  seperti yang diajarkan Tuhan Yesus  (Mat.22:37-40), yaitu: dengan cara  'Persembahan Persepuluhan' itu dikumpulkan oleh gereja dan kemudian disalurkan kepada masyarakat di lingkungan dimana gereja itu berada, untuk membantu orang-orang miskin atas nama gereja, bukan atas nama pendeta atau jemaat secara perseorangan. 

Mat.22:37-40 Jawab Yesus kepadanya "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." 

Kelebihan dari cara pendistribusian bantuan model ini adalah:
a. Jemaat tidak merasa bangga dengan dana yang dikeluarkannya melalui persembahan persepuluhan.
b. Orang miskin yang mendapatkan bantuan tidak mengetahui orang yang membantunya.
c. Nama Tuhan dipermuliakan dan memberikan kesaksian akan kasih Tuhan kepada mereka.
d. Jemaat yang bersangkutan imannya bertumbuh dan pada waktunya akan menghasilkan buah roh dalam hidup masing-masing jemaat, karena ia telah melakukan perbuatan kasih dengan suka-cita.

Persembahan persepuluhan mula-mula diperbuat oleh Abram bapak orang beriman itu, yang kemudian menjadi tradisi Yahudi dalam lingkungan Bait Allah (Tabernakel), dimana sebelas suku Israel memberikan sepersepuluh penghasilannya kepada suku Lewi yang diberikan tugas sebagai imam untuk menyelenggarakan upacara dalam Bait Allah.

Kej.14:18-20 Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu." Lalu Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya.

Ul.18:1 "Imam-imam orang Lewi, seluruh suku Lewi, janganlah mendapat bagian milik pusaka bersama-sama orang Israel; dari korban api-apian kepada TUHAN dan apa yang menjadi milik-Nya harus mereka mendapat rezeki. Janganlah ia mempunyai milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya; TUHANlah milik pusakanya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadanya. Inilah hak imam terhadap kaum awam, terhadap mereka yang mempersembahkan korban sembelihan, baik lembu maupun domba: kepada imam haruslah diberikan paha depan, kedua rahang dan perut besar. Hasil pertama dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, dan bulu guntingan pertama dari dombamu haruslah kauberikan kepadanya. Sebab dialah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala sukumu, supaya ia senantiasa melayani TUHAN dan menyelenggarakan kebaktian demi nama-Nya, ia dan anak-anaknya. Apabila seorang Lewi datang dari tempat mana pun di Israel, di mana ia tinggal sebagai pendatang, dan dengan sepenuh hati masuk ke tempat yang akan dipilih TUHAN, dan menyelenggarakan kebaktian demi nama TUHAN, Allahnya, sama seperti semua saudaranya, orang-orang Lewi, yang melayani TUHAN di sana, maka haruslah mereka mendapat rezeki yang sama, dengan tidak terhitung apa yang ia peroleh dengan menjual harta nenek moyangnya."

Bil.1:47-53  Tetapi mereka yang menurut suku bapa leluhurnya termasuk orang Lewi, tidak turut dicatat bersama-sama dengan mereka itu. Sebab TUHAN telah berfirman kepada Musa: "Hanya suku Lewi janganlah kaucatat dan janganlah kauhitung jumlahnya bersama-sama dengan orang Israel, tetapi tugaskan lah mereka untuk mengawasi Kemah Suci, tempat hukum Allah dengan segala perabotan dan perlengkapannya; mereka harus mengangkat Kemah Suci dengan segala perabotannya; mereka harus mengurusnya dan harus berkemah di sekelilingnya. Apabila berangkat, Kemah Suci harus dibongkar oleh orang Lewi, dan apabila berkemah, Kemah Suci harus dipasang oleh mereka; sedang orang awam yang mendekat harus dihukum mati.Orang Israel haruslah berkemah masing-masing di tempat perkemahannya dan masing-masing dekat panji-panjinya, menurut pasukan mereka, tetapi orang Lewi haruslah berkemah di sekeliling Kemah Suci, tempat hukum Allah supaya umat Israel jangan kena murka; orang Lewi haruslah memelihara Kemah Suci, tempat hukum itu."

Mal.3:10  Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Pada masa itu 'Persembahan Persepuluhan' menjadi penghasilan dari suku Lewi, karena suku Lewi tidak mendapat bagian dalam wilayah pendudukan tanah Kanaan. Tetapi setelah diadopsi gereja, 'Persembahan Persepuluhan' dalam prakteknya harus digunakan untuk pekerjaan Tuhan, tidak lagi menjadi hak para imam/ pendeta sepenuhnya. Pendeta harus mendapatkan penghidupan yang layak dari hasil 'Persembahan Persepuluhan', tetapi tidak diperkenankan untuk bermewah-mewah dengan berbagai barang duniawi. Karena ia harus memberikan contoh kepada jemaat, bagaimana seharusnya hidup yang mencerminkan kedewasaan rohani, sebagai teladan bagi jemaat. Adalah sangat keliru apabila seorang pendeta membanggakan barang-barang duniawi dan menganggapnya sebagai kesuksesan pribadi sebagai seorang 'pendeta besar'. Karena seorang hamba Tuhan mempunyai standar kesuksesan yang berbeda dengan standar kesuksesan seorang pengusaha yang bekerja di lapangan pekerjaan duniawi. Seharusnya seorang hamba Tuhan yang bekerja di lapangan kerohanian standarnya juga rohani, bukan standar duniawi.
Standar kesuksesan seorang hamba Tuhan adalah seperti yang dikatakan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya dalam Injil:

"Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mat. 20:25-28)

"Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." (Luk.9:48)

Jadi dari perkataan Tuhan Yesus itu sudah sangat jelas bahwa standar yang dikehendakiNya kepada hamba Tuhan adalah berbanding terbalik dengan standar kesuksesan orang yang bekerja di lapangan pekerjaan duniawi. Semakin seorang hamba Tuhan mau merendahkan dirinya semakin tinggi ia akan dimuliakan oleh Tuhan; semakin ia menjadi kecil maka ia semakin dijadikan besar oleh Tuhan. Maksudnya adalah bahwa seorang hamba Tuhan menjadikan dirinya semakin rendah agar Tuhan Yesus yang semakin ditinggikan. Seperti yang di ajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri dalam Injil:   
"Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Luk. 17:7-10)


Dan juga seperti yang diteladankan oleh Yohanes Pembaptis dengan perkataannya:
"Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga. Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya." (Yoh.3:27-36)


Tetapi standar yang dikehendaki Tuhan Yesus ini sangat sulit dimengerti dan diterima oleh hamba Tuhan yang masih mempunyai pikiran dengan standar duniawi. Dan hal ini juga dinyatakan rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, dengan perkataan:

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.(1 Kor.2:13-14) (bersambung...lihat renungan tentang: 'Berkat')


0 comments:

Poskan Komentar