Senin, 16 September 2013

Mamon dan Persahabatan

Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." (Luk.16:9) 

Perkataan Yesus Kristus di atas merupakan kesimpulan dari perumpamaan yang diceritakanNya kepada murid-murid (Luk.16:1-9). Dalam perumpamaan itu Tuhan Yesus memberi contoh suatu perbuatan yang 'bijak' dari seorang bendahara yang tidak jujur. Hal ini tidak berarti Tuhan Yesus Kristus mengajarkan orang agar berlaku tidak jujur, melainkan menyuruh mereka mencontoh tindakan yang 'cerdik' dari anak-anak dunia (orang yang hidup secara duniawi), dan menerapkan tindakan serupa itu dalam hidup anak-anak terang (orang beriman yang hidup secara rohani) agar iman mereka bertumbuh dengan subur dan menghasilkan 'buah Roh'. Yang dimaksudkanNya adalah bahwa orang beriman menggunakan kekayaan yang sudah dipercayakan kepadanya untuk melakukan perbuatan 'kasih' kepada sesamanya (Mat.22:37-40; Yoh.13:34-35; 15:17). Ia yang berlaku demikian tidak akan pernah menjadi miskin, atau menjadikan kekayaannya berkurang; seperti yang dikatakan raja Salomo, yang penuh hikmat itu:  "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan."  (Ams.11:24) 

Luk.16:1-9. Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya. Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara. Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu. Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka. Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku? Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul. Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi." 


Mat.22:37-40. Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." 


Yoh.13:34. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." 

Yoh.15:17. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain."

Adalah suatu perbuatan yang sulit dilakukan bagi orang-orang yang masih berpikiran duniawi untuk melakukan perbuatan seperti yang dilakukan bendahara dalam perumpamaan itu. Tetapi bagi orang beriman harus mau belajar melakukannya; karena tanpa kemauan untuk memulainya, ia tidak akan pernah bisa melakukannya sepanjang hidupnya, dan imannya tidak akan bertumbuh untuk menghasilkan 'buah' seperti yang diinginkan Tuhan. Dengan memulai melakukannya, walaupun pada mulanya harus dengan dipaksakan, tetapi lama kelamaan setelah berulang-ulang dilakukannya  maka akan menjadi satu perbuatan yang terbiasa dan tidak terasa berat lagi. Ia pada akhirnya dapat melakukan sebagai suatu yang biasa, suatu perbuatan yang sudah seharusnya dilakukannya sebagai suatu perbuatan yang wajar-wajar saja.

Orang yang berpikiran duniawi akan selalu merasa kurang dengan apa yang sudah ada padanya, ia akan berusaha mengumpulkannya lebih banyak dan lebih banyak lagi selama ia dapat mengumpulkannya sampai maut menjemputnya. Dan pada kesempatan terakhir hidupnya ia pun tidak pernah menggunakan semua yang dipunyainya untuk melakukan perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan; ia hanya mengumpulkan dan mengumpulkan tanpa tahu untuk apa ia mengumpulkan semuanya itu, karena ternyata ia merasa puas dapat mengumpulkannya, dan pekerjaan 'mengumpulkan' itu tanpa disadari menjadi tujuan hidupnya.

Dalam perkataan Yesus Kristus selanjutnya (Luk.16:10-13) memuat alasan mengapa seorang beriman harus melakukan perbuatan di atas, yaitu:
1.  Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
2.  Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.

Luk.16:10-13.  "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya? Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu? Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon."

1.  Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. 


ὁ πιστὸς ἐν ἐλαχίστῳ καὶ ἐν πολλῷ πιστός ἐστιν. Nestle(i)
ἐλαχίστῳ (superl.  μικρος) yang paling kecil (berh. dengan harga/ status); biasanya dengan arti "sangat" yang sangat kecil;  
ὁ πιστὸς ἐν ἐλαχίστῳ  yang setia (atau yang dapat dipercayai) dalam hal yang sangat kecil.
καὶ (pertama dan ke tiga) juga;
καὶ ἐν πολλῷ juga dalam hal besar
Orang yang dapat dipercayai dalam hal yang sangat kecil, juga dapat dipercayai dalam hal besar.

Dari terjemahan bahasa Yunani di atas maka makna dari perkataan Tuhan Yesus menjadi lebih jelas, dimana dalam kalimat itu terdapat tiga kata yang mempunyai makna tersamar yang menjadi pesan Tuhan Yesus bagi murid-muridNya.

1) Dapat dipercaya (setia) berarti orang yang dianggap jujur (tidak jahat) ketika ia diberi kuasa oleh orang yang lebih tinggi dan tidak menggunakan kuasa yang diberikan kepadanya dengan sewenang-wenang, melainkan menjaga dan menggunakan kuasa itu dengan penuh tanggung jawab. Yang dimaksud Tuhan Yesus adalah orang beriman yang berpikiran rohani (yang mementingkan pertumbuhan roh atau imannya).

2) hal (perkara) yang sangat kecil berarti sesuatu yang tidak begitu penting, yang tidak berharga, yang tidak perlu mendapat tempat khusus di dalam hati manusia. Yang dimaksud Tuhan Yesus adalah Mamon (uang atau kekayaan duniawi).

3) hal (perkara) besar berarti sesuatu yang penting, berharga, dan yang harus mendapat tempat yang khusus di dalam hati manusia. Yang dimaksud Tuhan Yesus adalah keselamatan roh, hidup kekal, sorga, kerajaan Allah, atau kekayaan rohani.

2.Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. 

Οὐδεὶς οἰκέτης δύναται δυσὶ κυρίοις δουλεύειν·  Nestle(i)

Οὐδεὶς  tidak seorang/ sesuatu
οἰκέτης m. hamba rumah tangga
δύναται yang sanggup
δυσὶ dat. dua
κυρίοις tuan, majikan
δουλεύειν·   δουλεύω  mengabdi kepada, melayani
Tidak seorang pun hamba rumah tangga yang sanggup melayani dua majikan

Dari alasan yang ke dua dapat ditangkap pesan Tuhan bahwa tidak mungkin seorang beriman hidup secara rohani dan sekaligus juga hidup secara duniawi, karena seorang beriman yang memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus Kristus maka ia harus hidup secara rohani dan meninggalkan hidup yang duniawi (Mat.19:21). Tapi bilamana ia tetap hidup menurut cara duniawi, maka ia tidak dapat mengikut Tuhan Yesus Kristus agar bisa sampai kepada Allah Bapa (Yoh.14:6).


Mat.19:21. Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." 

Yoh.14:6. Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 

Dari semua uraian di atas kemudian dapat ditarik satu kesimpulan dari pengajaran Tuhan tentang perumpamaan "bendahara yang cerdik", yaitu bahwa hal yang duniawi adalah hal yang sangat kecil, tidak penting, dan tidak seharusnya mendapat tempat di hati manusia, melainkan hal yang rohani saja. Dan seorang beriman yang mengikut Tuhan harus mencontoh tindakan cerdik bendahara itu, dengan menggunakan kekayaan dan semua yang ada dalam kuasanya, yang diberikan Tuhan kepadanya, untuk melakukan perbuatan 'kasih' kepada sesamanya. Dan seorang beriman tidak bisa memilih untuk hidup secara rohani dan sekaligus hidup secara duniawi; tetapi harus memilih hanya hidup menurut Roh saja.